«

»

Dec 16

Print this Post

Memandang Jogja Lewat Dagadu

satoe lagi dari djokja
sesoeda geplak, goedeg en bakpia
kaos oblong bertanda merk mata

….
Dagadu, semua orang sudah tahu
Bisa dipakai dengan jeans dan surjan
Bisa dipakai dengan sarung dan jaket
Bisa dipakai untuk nyantap grontol en tiwul
Bisa juga dibuat ngudap spaghetti en pizza; artinya:
Bisa buat ngebut benjut
Bisa juga buat alon-alon waton on time
Pokoknye semua bisa muncul serentak deh di kaos dagadu
Ya ijo, ya kuning, ya abang, sekarang!

Di atas adalah penggalan puisi karya Darmanto Jatman. Judulnya: Duile Dagadu, dari buku kumpulan puisi dosen dan penyair asal Semarang itu (1958-1997) yang bertajuk “Istri”.

Dagadu yang berasal dari bahasa slank anak muda Yogya yang berarti: Matamu, Mata Anda, Your Eyes… itu kini telah menjadi bagian dari produk budaya Jogja, tentu saja di samping batik, bakpia, geplak, dan gudeg.

Siapa datang ke Yogya tanpa membeli dagadu, maka dijamin tidak sah kehadirannya. Begitulah sesumbarnya orang Jogja yang rata-rata memang bangga dengan dagadu. Nah, saking larisnya itu kaos oblong produk dagadu, sampai-sampai pembeli mesti sabar antre, mendaftar, untuk selanjutnya mesti sabar pula menerima panggilan dari penjual. Selain dokter yang maha laris di kota Anda, larisnya dagadu ini barangkali hanya tersaingi oleh bakpia patuk nomer 75.

Begitulah, dagadu telah menyulap gaya hidup manusia Jogja serta manusia luar Jogja menjadi insan-insan yang fashionable dan penuh sportivitas. Atau dalam bahasa Darmanto Jatman, “This t-shirt will transform you from the member of tradisional rural agrarian feudal community unto a postmodern posturban postindustrial postdemocratic c.y.”

Maka benarlah kata Aart Van Zoest dalam bukunya De Rol Van Context, Cultuur en Ideologie in Semiotiek, bahwa pakaian adalah sistem yang amat terkenal. Katanya, kita berpakaian bukan saja karena pertimbangan-pertimbangan fungsional seperti menutupi aurat atau juga melindungi tubuh dari hawa dingin. Melainkan, pakaian adalah lambang, alat semiotic. Dengan pakaian kita menyatakan “Saya gagah sekali”, “Saya berasal dari Jogja” , “Saya masih muda”, dan seterusnya.

Dagadu kini memang telah menjadi isyarat, menjadi tanda, menjadi simbol, yang di dalamnya terkandung makna, terkandung pesan, seperti yang digelorakan oleh para ahli semiotika macam Umberto Eco, Martin Krampen, Roman Jakobson, sampai Roland Barthes.

Bagi pembuatnya (yang asli tentu), dagadu adalah isyarat adanya semangat untuk berkarya melalui media kaos oblong (catat: hanya kaos oblong. Di luar produk kaos oblong, apakah itu tas pinggang, sandal, sepatu dan sebagainya, dijamin palsu adanya). Pada media kaos oblong itu, terkandung juga tanda adanya keinginan untuk berkomunikasi lewat gambar atau tulisan yang lucu, cerdas dan akrab.

Nah, kita (pembeli) sebagai penerima tanda, akhirnya sepakat. “Dagadu memang bermutu,” kata Tony, mahasiswa asal Semarang yang pada hari Minggu, 14 Oktober itu ikut berdesak-desakan antre membeli kaos dagadu. “Dagadu itu lucu. Tapi karena banyak pemalsunya, akhirnya menjadi barang massal yang tidak eksklusif lagi,” ungkap Rhisna, karyawan sebuah perguruan tinggi di Bandung yang sedang liburan di Jogja.

Mereka membeli dengan berbagai alasan. Pertama, karena mereka memang telah kenal dan menyukai mulai dari bahan sampai disainnya. Selebihnya, bisa jadi karena bujuk rayu tukang becak, sopir taksi atau tukang ojek yang memang butuh komisi dari si penjual dagadu palsu.

Tapi itulah nyatanya. Jangankan produk asli dagadu yang hanya dijual di dua tempat, yakni di Pakuningratan dan basement Mal Malioboro, produk palsunya saja yang tersebar di hampir seluruh sudut kota Jogja, ramainya bukan kepalang.

Dan bagi warga Jogja, dagadu adalah sihir budaya pop yang mengubah wacana berpakaian. Gaya parlente tak harus memakai jas dan berdasi, gaya sopan tak harus bersurjan, gaya mriyayeni tak harus mengenakan beskap. Cukup kaos, dan itu dagadu namanya.

Seperti tertulis dalam penggalan puisi “Duile Dagadu”, …pakai kaos dagadu, cakil lupa ia denawe, batal nantang-nantang Arjune, malah asik ngerep dagadu adu da dee, dagadu sip gandumu mengsle. Pokoke dagadu kaya rase, tak Selam tak Serani, tak Jawe tak Bali, tak Golkar tak Golput, pakai dagadu semua sesudare. Dagadu membebaskan kamu dari semangat suku, membebaskan anda dari belenggu SARA, pokoknye, bebas dari primodialisme dan sektarianisme dah!

Kenapa bisa sedemikian semrawutnya tata bisnis perkaosan dengan merk dagadu ini? Menurut budayawan asal Jogja, Emha Ainun Nadjib, karena bangsa kita amat permisif, bahkan untuk sebuah kekeliruan. Atau dalam istilah lelaki asli Jogja yang penuh tato di tubuhnya, Bob Sick, karena penguasa setempat leda-lede (tak tegas), jadi membuat pelanggar hukum keenakan.

Di dalamnya ada pesan antropologis, sosiologis, sampai filosofis, yang aktual maupun yang selama ini tak pernah diangkat oleh media massa sekalipun. Sebutlah mulai dari mengangkat uang benggol, Timtim, budaya alon-alon waton kelakon, yang kesemuanya itu diramu dalam bentuk bahasa plesetan.

Walhasil, dagadu tetap dengan mottonya yang smile, smart dan Jogja. Menggelitik karena kata-katanya yang lucu, cerdas, dan tentu pula bergaya nJogja yang bersahaja dan bersahabat itu. Tapi entahlah sekarang, dengan menggilanya ekspansi para pemalsu, apakah pemilik dagadu asli juga masih bisa senyum. Hehehe. (jodhi yudono)

Kompas, Minggu, 21 Oktober 2001, 14:47 WIB

 

Permanent link to this article: http://blog.dagadu.co.id/2011/12/16/memandang-jogja-lewat-dagadu/

1 comment

  1. ikatan apoteker indonesia

    bagaiamapun juga mesti diakui Dagadu sudah menjadi salah satu ikon jogja. tidak lengkap ke jogja kl tidak membawa bingkisan kaos dagadu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>