Dec
21

Memberikan Pengalaman Baru Bagi Pelanggan

Narasumber :  Dagadu Djokdja (A. Noor Arief, Direktur)

Experiential marketing merupakan strategi pemasaran yang berdasarkan pada pengalaman dari konsumen. Penggunaan strategi pemasaran tersebut pada akhirnya bertujuan agar pelanggan mau melakukan pembelian berulang kali. Salah satu pemasar yang menggunakan strategi ini adalah PT Aseli Dagadu Djokja.

Dari pengamatan yang dilakukan oleh PT Aseli Dagadu Djokja selaku pemegang merek asli Dagadu Djokja, ada kepastian bahwa pembelinya adalah orang-orang yang sama, alias pembeli yang berulang. Pembelian yang dilakukan secara berulang kali biasanya terjadi di saat tertentu, semisal ketika Lebaran. Saat itulah merupakan peak season bagi Dagadu. Melihat kondisi demikian, mereka mencoba selalu memberikan pengalaman yang berbeda setiap tahun. “Ibaratnya, kalau kita bertemu orang yang sama, tidak mungkin kita akan memberikan menu yang sama, kan? Dan mereka akan bosan. Kami selalu melakukan inovasi untuk setiap produk, bahkan itu dilakukan setiap bulan,” papar A. Noor Arief, Direktur PT Aseli Dagadu Djokja.

Selain melakukan inovasi produk, pada saat-saat tertentu seperti Lebaran, pihak Dagadu juga akan membuat suatu event yang mendukung penjualan produk mereka. Misalnya, menghadirkan atmosfer “masa lalu” saat Lebaran. Hal tersebut merupakan servis tambahan yang diberikan oleh Dagadu. Jadi, saat pembeli datang, mereka bukan sekadar membeli oleh-oleh. Dagadu menyambut mereka seperti saat mereka sedang berlebaran ke rumah sanak keluarga. Di sana disajikan pula berbagai macam makanan maupun minuman tradisional saat musim tersebut.

Selain melakukan inovasi sendiri, Dagadu juga sering menerima masukan dari pelanggan mereka. Dalam hal ini lebih kepada soal tema. Sebab itu, Dagadu selalu menampilkan tema-tema baru melalui kata-kata. “Adanya tema-tema baru mendorong penjualan kami. Misalkan, dua tahun yang lalu diusung tema perjuangan tahun 1945. Diciptakanlah produk yang mendukung tema tersebut. Jadi, secara ambience orang akan terbangun emosinya dan secara produk pembeli menemukan sesuatu yang sama dengan tema itu,” papar A. Noor Arief. Penentuan tema dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali. Tema dipilih berdasarkan tren yang sedang terjadi, tanpa harus menjadi latah atau ikut-ikutan.

Semua itu didasarkan pada riset yang kerap dilakukan. Kebanyakan riset tersebut merupakan masukan dari pelanggan juga. Apakah konsumen harus selalu membeli kaos saja, apa tidak ada produk lainnya? Hal ini mendorong adanya pengembangan produk, misalkan, dalam bentuk permainan anak-anak dan boneka. Khusus untuk boneka, inspirasi biasanya diambil dari tokoh wayang. Bentuknya boneka anak-anak masa kini, namun dengan penokohan dari dunia pewayangan, seperti Gatotkaca dan Bima. Dagadu tetap menekankan pada konten lokal, sesuai positioning mereka, yaitu cendera mata khas Yogyakarta.

Strategi experiential marketing yang dilakukan, menurut pengakuan A. Noor Arief, membuat pelanggan sangat menikmati, dan mereka pun memberi apresiasi yang baik. Bahkan, pengunjung yang baru pertama kali datang juga cukup dibuat surprised. Ini bukan sekadar toko menjual cendera mata biasa. Pengunjung toko disambut seperti seorang tamu dan diberikan pengalaman-pengalaman mengenang masa kecil mereka. Bagi tamu yang datang bersama putra dan putrinya, suasana ini bisa memunculkan komunikasi antara orangtua dan anak-anak—para orangtua bernostalgia, menceritakan pengalaman masa kecil bersama ayah dan ibu mereka kepada anak-anaknya.

Ada beberapa target ingin dicapai dengan strategi pemasaran ini. Pertama, pelanggan baru diharapkan akan menjadi pembeli yang berulang. Sementara itu, pembeli yang berulang akan mendapat kejutan dengan pengalaman baru lagi. Dengan demikian, Dagadu akan selalu mempunyai tantangan untuk menciptakan “pengalaman” baru bagi setiap pelanggannya. Dan, pengalaman-pengalaman yang selalu baru inilah yang akan membuat pembeli ingin kembali lagi ke Dagadu.

Sejak awal kelahirannya, Dagadu telah memosisikan diri sebagai produk cendera mata alternatif dari Djokdja dengan mengusung tema utama “Everything about Djokdja”. Penyuguhan estetika keseharian yang sederhana, gagasan yang mudah dipahami, dan pemilihan citra kerajinan ketimbang pabrikan, baik material yang digunakan maupun unsur-unsur desain, membedakan produk ini dari cendera mata lain.  (Noor Yanto)

Dec
16

Memandang Jogja Lewat Dagadu

satoe lagi dari djokja
sesoeda geplak, goedeg en bakpia
kaos oblong bertanda merk mata

….
Dagadu, semua orang sudah tahu
Bisa dipakai dengan jeans dan surjan
Bisa dipakai dengan sarung dan jaket
Bisa dipakai untuk nyantap grontol en tiwul
Bisa juga dibuat ngudap spaghetti en pizza; artinya:
Bisa buat ngebut benjut
Bisa juga buat alon-alon waton on time
Pokoknye semua bisa muncul serentak deh di kaos dagadu
Ya ijo, ya kuning, ya abang, sekarang!

Di atas adalah penggalan puisi karya Darmanto Jatman. Judulnya: Duile Dagadu, dari buku kumpulan puisi dosen dan penyair asal Semarang itu (1958-1997) yang bertajuk “Istri”.

Dagadu yang berasal dari bahasa slank anak muda Yogya yang berarti: Matamu, Mata Anda, Your Eyes… itu kini telah menjadi bagian dari produk budaya Jogja, tentu saja di samping batik, bakpia, geplak, dan gudeg.

Siapa datang ke Yogya tanpa membeli dagadu, maka dijamin tidak sah kehadirannya. Begitulah sesumbarnya orang Jogja yang rata-rata memang bangga dengan dagadu. Nah, saking larisnya itu kaos oblong produk dagadu, sampai-sampai pembeli mesti sabar antre, mendaftar, untuk selanjutnya mesti sabar pula menerima panggilan dari penjual. Selain dokter yang maha laris di kota Anda, larisnya dagadu ini barangkali hanya tersaingi oleh bakpia patuk nomer 75.

Begitulah, dagadu telah menyulap gaya hidup manusia Jogja serta manusia luar Jogja menjadi insan-insan yang fashionable dan penuh sportivitas. Atau dalam bahasa Darmanto Jatman, “This t-shirt will transform you from the member of tradisional rural agrarian feudal community unto a postmodern posturban postindustrial postdemocratic c.y.”

Maka benarlah kata Aart Van Zoest dalam bukunya De Rol Van Context, Cultuur en Ideologie in Semiotiek, bahwa pakaian adalah sistem yang amat terkenal. Katanya, kita berpakaian bukan saja karena pertimbangan-pertimbangan fungsional seperti menutupi aurat atau juga melindungi tubuh dari hawa dingin. Melainkan, pakaian adalah lambang, alat semiotic. Dengan pakaian kita menyatakan “Saya gagah sekali”, “Saya berasal dari Jogja” , “Saya masih muda”, dan seterusnya.

Dagadu kini memang telah menjadi isyarat, menjadi tanda, menjadi simbol, yang di dalamnya terkandung makna, terkandung pesan, seperti yang digelorakan oleh para ahli semiotika macam Umberto Eco, Martin Krampen, Roman Jakobson, sampai Roland Barthes.

Bagi pembuatnya (yang asli tentu), dagadu adalah isyarat adanya semangat untuk berkarya melalui media kaos oblong (catat: hanya kaos oblong. Di luar produk kaos oblong, apakah itu tas pinggang, sandal, sepatu dan sebagainya, dijamin palsu adanya). Pada media kaos oblong itu, terkandung juga tanda adanya keinginan untuk berkomunikasi lewat gambar atau tulisan yang lucu, cerdas dan akrab.

Nah, kita (pembeli) sebagai penerima tanda, akhirnya sepakat. “Dagadu memang bermutu,” kata Tony, mahasiswa asal Semarang yang pada hari Minggu, 14 Oktober itu ikut berdesak-desakan antre membeli kaos dagadu. “Dagadu itu lucu. Tapi karena banyak pemalsunya, akhirnya menjadi barang massal yang tidak eksklusif lagi,” ungkap Rhisna, karyawan sebuah perguruan tinggi di Bandung yang sedang liburan di Jogja.

Mereka membeli dengan berbagai alasan. Pertama, karena mereka memang telah kenal dan menyukai mulai dari bahan sampai disainnya. Selebihnya, bisa jadi karena bujuk rayu tukang becak, sopir taksi atau tukang ojek yang memang butuh komisi dari si penjual dagadu palsu.

Tapi itulah nyatanya. Jangankan produk asli dagadu yang hanya dijual di dua tempat, yakni di Pakuningratan dan basement Mal Malioboro, produk palsunya saja yang tersebar di hampir seluruh sudut kota Jogja, ramainya bukan kepalang.

Dan bagi warga Jogja, dagadu adalah sihir budaya pop yang mengubah wacana berpakaian. Gaya parlente tak harus memakai jas dan berdasi, gaya sopan tak harus bersurjan, gaya mriyayeni tak harus mengenakan beskap. Cukup kaos, dan itu dagadu namanya.

Seperti tertulis dalam penggalan puisi “Duile Dagadu”, …pakai kaos dagadu, cakil lupa ia denawe, batal nantang-nantang Arjune, malah asik ngerep dagadu adu da dee, dagadu sip gandumu mengsle. Pokoke dagadu kaya rase, tak Selam tak Serani, tak Jawe tak Bali, tak Golkar tak Golput, pakai dagadu semua sesudare. Dagadu membebaskan kamu dari semangat suku, membebaskan anda dari belenggu SARA, pokoknye, bebas dari primodialisme dan sektarianisme dah!

Kenapa bisa sedemikian semrawutnya tata bisnis perkaosan dengan merk dagadu ini? Menurut budayawan asal Jogja, Emha Ainun Nadjib, karena bangsa kita amat permisif, bahkan untuk sebuah kekeliruan. Atau dalam istilah lelaki asli Jogja yang penuh tato di tubuhnya, Bob Sick, karena penguasa setempat leda-lede (tak tegas), jadi membuat pelanggar hukum keenakan.

Di dalamnya ada pesan antropologis, sosiologis, sampai filosofis, yang aktual maupun yang selama ini tak pernah diangkat oleh media massa sekalipun. Sebutlah mulai dari mengangkat uang benggol, Timtim, budaya alon-alon waton kelakon, yang kesemuanya itu diramu dalam bentuk bahasa plesetan.

Walhasil, dagadu tetap dengan mottonya yang smile, smart dan Jogja. Menggelitik karena kata-katanya yang lucu, cerdas, dan tentu pula bergaya nJogja yang bersahaja dan bersahabat itu. Tapi entahlah sekarang, dengan menggilanya ekspansi para pemalsu, apakah pemilik dagadu asli juga masih bisa senyum. Hehehe. (jodhi yudono)

Kompas, Minggu, 21 Oktober 2001, 14:47 WIB

 

Dec
14

Lucu Tak Gentar, Tebar Gagasan

Meskipun ide-ide dan gagasannya dirompak para pembajak yang tidak bijak, Dagadu sadar untuk terus maju, terus berinovasi untuk tetap menjadi yang terdepan. Biarpun pembajak selalu mengikuti, Dagadu akan terus berlari.

Untuk bisa terus berlari, Dagadu harus membentangkan sayap seluas-luasnya. Dalam konsep tradisional, pembentangan sayap bisa diartikan sebagai membuat perwakilan gerai dimana-mana. Hal ini jelas bertentangan dengan konsep Dagadu sebagai cinderamata. Dari hasil pemikiran mendalam, akhirnya disepakati untuk meluncurkan www.dagadu.co.id sebagai sarang bagi Dagadu dalam menjangkau dunia yang lebih luas.

Membumbung Bagai Burung, Melesat Bagai Kilat, Biar Kecil Tak Suka Jahil, Biar Gendut Bukan Penakut, Jagoan Jogja, MalMan namanya.

Adalah ungkapan untuk sebutan layanan lewat kawat (PESAWAT) dari Dagadu melalui website yang ada. Dagadu memvisualkan terobosan melalui website dengan tokoh karakter yang diberinama MalMan.
matamu abang
Dengan gerai virtual ini Dagadu mengenalkan program pesawat, pesanan lewat kawat. Memang belum secanggih yang dimiliki oleh amazon.com, tetapi paling tidak program pesawat ini menjadi solusi bagi pengembangan bisnis global Dagadu Djokdja di masa yang akan datang. Melalui homepage yang dimiliki, Dagadu Djokdja lebih bisa mengenalkan diri kepada konsumennya di manapun mereka berada. Melalui homepage www.dagadu.co.id juga konsumen/komunitas bisa melihat sekaligus memiliki produk-produk Dagadu. Dan yang paling penting, komunitas Dagadu bisa bergabung dalam Dagaduers untuk saling bertukar informasi.

cu Tak Gentar, Tebar Gagasan

Meskipun ide-ide dan gagasannya telah habis dirompak para pembajak yang tidak bijak, Dagadu sadar untuk terus maju, terus berinovasi untuk tetap menjadi yang terdepan. Biarpun pembajak selalu mengikuti, Dagadu akan terus berlari.

 

Untuk bisa terus berlari, Dagadu harus membentangkan sayap seluas-luasnya. Dalam konsep tradisional, pembentangan sayap bisa diartikan sebagai membuat perwakilan gerai dimana-mana. Hal ini jelas bertentangan dengan konsep Dagadu sebagai cinderamata. Dari hasil pemikiran mendalam, akhirnya disepakati untuk meluncurkan www.dagadu.co.id sebagai sarang bagi Dagadu dalam menjangkau dunia yang lebih luas.

 

Membumbung Bagai Burung, Melesat Bagai Kilat, Biar Kecil Tak Suka Jahil, Biar Gendut Bukan Penakut, Jagoan Jogja, MalMan namanya.

Adalah ungkapan untuk sebutan layanan lewat kawat (pesawat) dari Dagadu melalui website yang ada. Dagadu memvisualkan terobosan melalui website dengan tokoh karakter yang diberinama MalMan.

 

Dengan gerai virtual ini Dagadu mengenalkan program pesawat, pesanan lewat kawat. Memang belum secanggih yang dimiliki oleh amazon.com, tetapi paling tidak program pesawat ini menjadi solusi bagi pengembangan bisnis global Dagadu dimasa yang akan datang. Melalui homepage yang dimiliki, Dagadu lebih bisa mengenalkan diri kepada konsumennya dimanapun mereka berada. Melalui homepage www.dagadu.co.id juga konsumen/komunitas bisa melihat sekaligus memiliki produk-produk Dagadu. Dan yang paling penting, komunitas Dagadu bisa bergabung dalam Dagaduers untuk saling bertukar informasi.

Dec
14

ScrapBook di Kumpul Bocah Dagadu Djokdja

Kumpul bocah Dagadu Djokdja adalah sebentuk kegiatan yang mengajak bocah atau anak – anak untuk bermain bersama, berkreativitas dengan memanfaatkan barang – barang yang sehari – hari ada di sekeliling mereka. Setelah mendapat sentuhan di Kumpul Bocah Dagadu Djokdja harapannya barang – barang tersebut menjadi barang yang lebih bernilai guna. Kumpul Bocah Dagadu Djokdja terbuka untuk umum dan tanpa membayar alias gratis untuk siapa saja semua bocah atau anak – anak, tentunya dengan terlebih dahulu mendaftarkan diri di Gerai UGD, Jl. Pakuningratan No. 15 – 17 Yogyakarta.
Kumpul bocah Dagadu Djokdja pada kesempatan kali ini akan dihelat di gerai UGD, pada hari Minggu tanggal 18 Desember 2011, mulai jam 09.00 wib sampai selesai kisaran jam 12.30 wib. Pada kesempatan kali ini kumpul bocah akan belajar bersama-sama membuat buku kreatif dengan menggunakan barang barang yang ada di sekeliling mereka, seperti potongan kertas, kain perca, ataupun pita. Buku kreatif ini sering disebut sebagai scrap book. Selain gratis, semua perlengkapan acara sebenarnya sudah disiapkan oleh Dagadu Djokdja. Bagi mereka yang tertarik tinggal mendaftarkan diri, dan membawa gunting atau cutter pada hari pelaksanaan. Pun peserta diharapkan memakai oblong Dagadu Bocah. Pendaftaran sudah dibuka di gerai UGD dan segera akan ditutup setelah peserta memenuhi kuota sebanyak 50 anak.
Lantaran acara ini dihelat berdekatan dengan Hari Ibu, ada sebuah harapan acara ini mampu menjadi sebuah wahana yang juga mendekatkan hubungan erat antara bocah dan ibunya. Oleh karena itu peserta yang datang nanti juga akan difoto bersama ibu atau yang menemaninya kemudian foto tersebut dijadikan hiasan dalam scrap book yang mereka buat. Bagi mereka yang merasa kurang jelas dan ingin bertanya – tanya silakan hubungi kantor PT. Aseli Dagadu Djokdja setiap hari kerja Senin – Jumat antara jam 09.00 wib – 17.00 wib melalui nomor telpon 0274 – 373441. Mari segera mendaftar selagi kuota belum terpenuhi.

Nov
08

Jamasan#4

Jogja dan November tentunya tidak terlepas dari serangkai aktivitasnya, bukan hanya hujan yang akrab mengguyur Jogja, tapi juga beragam hajatan khas kota Jogja akan banyak dihelat di bulan ini. Salah satu hajatan tersebut adalah Jamasan#4, sebuah acara hasil garapan bareng Dagadu Djokdja, Forum Movies Kaskus, Kaskus Regional Yogyakarta, dan Kaskus Regional Keresidenan Kediri.
Jamasan, atawa Jagongan Malem Seton Dagadu Djokdja alias ngobrol bareng di malam sabtu kali ini adalah yang keempat kalinya, sehingga tertulis Jamasan#4. Kali ini hajatan akan hadir special lantaran dihelat di hari Kamis tanggal 10 November 2011, di roeang I SEE U Gerai UGD, Jl. Pakuningratan No.15–17 Yogyakarta. Mencocokkan dengan tanggal penyelenggaraan, Jamasan kali diselenggarakan di hari kamis bertepatan dengan hari pahlawan. Momen hari pahlawan ini juga yang kemudian mengispirasi untuk mengangkat tema obrolan “Patriotisme video – video kreatif”.
Dari temanya Jamasan#4 akan coba mengulik semangat patriotisme melalui video – video kreatif anak bangsa, khususnya video – video kreatif yang sudah terkumpul dalam lomba film pendek online forum movies kaskus. Obrolan tentunya semakin menarik dengan umpan – umpan yang akan dilempar oleh Harwan “ Aconk” Panuju seorang Creative Director X Code Film yang dikenal lewat karyanya “Toni Blank show” dan “Sunday on 7”. Bukan sekedar menikmati kesempatan untuk saling berbagi cerita dan pengalaman, Jamasan#4 juga memberikan sisi hiburan musik akustik dengan penampilan “Elena”, band indie yang sudah terbiasa mengerjakan soundtrack beberapa film. Jalannya acara sendiri akan dipandu oleh kerabat Kaskus Regional Yogyakarta. Untuk acara dikediri akan diadakan screening video – video kreatif tersebut di Taman Makam Pahlawan Blitar pada hari Minggu tanggal 13 November 2011.
Jangan sampai terlewat silakan ajak serta semua kawan lantaran hajatan istimewa ini gratis dan terbuka untuk umum, tersedia juga camilan ringan dan akses wifi yang memberikan kesempatan untuk sekedar up date status menceritakan alur obrolan. Untuk informasi, jangan lupa follow akun twitter @dagadudjokdja, @kaskuseRYe, @kaskusfovies.

Nov
08

Kumpul Bocah Dagadu Djokdja

Bermain bersama, bercanda, berkreasi penuh riang gumbira demikian kumpul bocah Dagadu Djokdja. Di sela – sela belajar mengerjakan tugas – tugas sekolah, asyik rasanya jika kita bermain bersama meski hanya beberapa waktu saja, kumpul bocah Dagadu Djokdja mengajak semua bocah atawa anak – anak anak tanpa terkecuali siapa saja yang tengah duduk dibangku SD antara kelas 3 ( tiga ) sampai 5 ( lima ) untuk kembali bermain bersama dalam acara Kumpul Bocah Dagadu Djokdja.

Jikalau biasa kumpul bocah Dagadu Djokdja dihelat di gerai UGD – Jl. Pakuningratan No. 15 – 17 Yogyakarta, kesempatan kali ini kumpul bocah akan dihelat di Ambarukmo Plaza lantai 2, khususnya di Hall A dan B berdekatan dengan gerai DPRD – Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu Djokdja. Berbeda lokasi acara lantaran kesempatan kali ini tim Kumpul Bocah Dagadu Djokdja bekerjasama dengan Fakultas Desain Produk UKDW memeriahkan dies natalis UKDW. Acara Kumpul Bocah sendiri akan dihelat selama 4 ( empat ) hari, yaitu pada hari Rabu, 12 Oktober 2011, jam 14.30 – 16.30 wib, berkreasi dengan kertas kokoru. Hari Jumat, 14 Oktober 2011, Jam 15.30 – 17.30 wib , berkreasi dengan kain perca. Sabtu, 15 Oktober 2011, Jam 15.30 – 17.30 wib, berkreasi kardus bekas dan story telling, dan pada hari Minggu ceria, 16 Oktober 2011, berkreasi dengan kain perca jam 15.45 – 17.45 wib.

Seperti pada acara Kumpul Bocah Dagadu Djokdja sebelumnya, kali ini bocah yang tertarik untuk ikut tidak dipungut biaya sepersenpun alias gratis, hanya saja jangan sampai lupa untuk membawa gunting dan lem kertas masing – masing. Lebih afdol juga jikalau pesan tempat terlebih dulu via telp. kantor Dagadu Djokdja di 0274 – 373441 Senin – Jumat Jam 09.00 – 16.00 wib dengan mbak Lila, mas Edo, atau mas Junno. Bagi peserta kumpul bocah jangan lupa pakai oblong Dagadu Bocahnya ya . . mari bergumbira ria.

Oct
14

Smart, Smile, Djokdja !

…adalah slogan dasar yang diharapkan mewarnai segala bentuk aktivitas yang ada di Dagadu Djokdja.

Smart adalah ekspresi dan ungkapan dari keharusan yang dimunculkan pada setiap aktivitas maupun produk yang dihasilkan sebagai penjabaran dari makna keterpelajaran. Nilai-nilai Smart yang diangkat oleh Dagadu Djokdja sangat dengat dengan makna kebenaran (truth), aktualitas (actual), dan kontektualitas (contextual), yang didukung oleh data yang akurat.

Nilai-nilai Smile adalah penggalian dari nilai luhur masyarakat jogja yang dikenal dengan keramahan (hospitality), dan kebesaran jiwa untuk bekerjasama (cooperative).

Sedangkan Djokdja adalah penggambaran atas sumber inspirasi dan kreasi yang akan dikomunikasikan, bisa berupa artefak arsitektural, living culture maupun kebiasaan (habitual) yang berkembang di Jogja dari masa ke masa.

Slogan adalah jalan untuk menyampaikan visi, slogan yang baik tentunya harus mempunyai content dan context. Dagadu Djokdja melalui slogan yang dibangun mencoba bercerita tentang Jogja apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jogja masa kini adalah jogja yang bersedia berubah, dan memang telah berubah.